Titik balik

Tahun ini adalah titik balik. Yang mula menjadi akhir sementara yang akhir menjadi awal yang baru lagi. Begitu banyak pertentangan dan gejolak dalam hampir satu tahun kebelakang. Berkali-kali jatuh dan kembali terbangun; berurai air mata sampai tawa tiada henti.

Hanya ada satu yang bisa kusebut sebagai rasa syukur pada tahun ini; pertemuan. Semua bermula dari pertemuan, tidak hanya dengan orang-orang baik, tetapi juga dengan masalah, tanda tanya, sampai segala macam emosi. Aku bersyukur sekali masih diberi kesempatan bertemu berbagai macam hal. 

Ada yang begitu keras menamparku hingga aku bisa bangkit dari masa lalu. Ada yang begitu lembut menasihati hingga aku paham apa yang terjadi pada diriku sendiri. Ada juga beberapa pencapaian penuh peluh yang menjadi penutup perjuangan periode ini. Semua dilakukan bersama kawan baru, keluarga baru.

Semuanya bermula dari pertemuan.

Dari dulu tak pernah ada yang bisa sepertimu,
Menjagaku dan membuatku tertawa.
Tidakkah itu cukup menjadi alasan aku tak ingin pergi?

Karena sekarang masih saja kamu yang membuatku terjaga sepanjang malam hanya menunggu kabar.

Sudah sampaikah disana?
Sudahkah perlahan ada aku kembali?
Atau malah sebaliknya?

Tidak ada yang beranjak
Tapi hatiku remuk terinjak

Mendung tak datang
Tapi di pipi ada hujan yang berlinang

Kenapa ada duka jika kita masih bisa bersama?
Bagaimana bisa ada dia, sedang selama ini aku hanya memeluk lenganmu saja?

Maaf ternyata aku tak berlaku setia
Kau terluka
Dan aku memilih hancur bersama lumpur

Tak masalah. Aku hanya harus terus mencoba menanam bunga. Lalu meredakan hujan kecemburuan agar bisa menuai pelangi lewat lengkung senyuman. Ah ini bahkan bukan pertanyaan 😂

Mencintaimu sesederhana itu

Aku mencintaimu saat ini dan ingin tetap mencintaimu, lebih baik lagi dari hari ini.

Aku masih ingin memahami setiap liku pikiranmu,
hingga mampu menjadi yang pantas bersanding dengan pikiran hebatmu itu.

Aku masih ingin menyesuaikan suhu dingin jiwamu, hingga mampu menghangatkanmu kapan saja. Sehingga ketika kau keterlaluan aku tetap ada dan tidak menyerah. Jujur, berada di sampingmu tidaklah mudah. Namun aku bahagia. Aku bahagia hidup beriringan denganmu. Hidup bersama laki-laki terkasih di hidupku.

Bahkan, ketika kau mulai goyah dengan perjalanan kita, aku akan tetap yakin dengan ini. Keluarga kecil yang sederhana, yang tumbuh dengan restu semesta, aku mencintaimu sedamai itu; sesederhana mimpiku.

Tidak apa jika masih terasa sedikit sakit ketika mencintaimu saat ini. Aku belajar, bahwa kita tak hanya perlu cinta. Rasa sakit membantuku tumbuh dengan kokoh, sehingga ketika menjadi istrimu kelak; membuatmu tidak menyesal.

Meski kau harus meninggalkanku dulu saat ini, meski kau mulai berpikir bahwa singgah di hati yang lebih menawan mungkin mengasyikan. Aku akan selalu belajar memahamimu.

Mungkin akan terlihat sangat bodoh ketika mereka menatapku, namun aku masih ingin mencintaimu lebih baik lagi. Kemarilah, mari memperbaiki diri bersama. Menjadi teman hidupku yang selalu aku banggakan.


Bandung Timur
21 Maret 2017


Kita tidak harus memulai ketika semuanya sudah benar-benar tuntas. Kita tidak harus memulai saat semuanya sudah sepenuhnya siap.

Acapkali, kesiapan dan rasa lega justru datang di tengah perjalanan. 

Seringkali kita lebih banyak butuh membangun keberanian daripada sekedar terus memupuk harapan.