Titik balik

Tahun ini adalah titik balik. Yang mula menjadi akhir sementara yang akhir menjadi awal yang baru lagi. Begitu banyak pertentangan dan gejolak dalam hampir satu tahun kebelakang. Berkali-kali jatuh dan kembali terbangun; berurai air mata sampai tawa tiada henti.

Hanya ada satu yang bisa kusebut sebagai rasa syukur pada tahun ini; pertemuan. Semua bermula dari pertemuan, tidak hanya dengan orang-orang baik, tetapi juga dengan masalah, tanda tanya, sampai segala macam emosi. Aku bersyukur sekali masih diberi kesempatan bertemu berbagai macam hal. 

Ada yang begitu keras menamparku hingga aku bisa bangkit dari masa lalu. Ada yang begitu lembut menasihati hingga aku paham apa yang terjadi pada diriku sendiri. Ada juga beberapa pencapaian penuh peluh yang menjadi penutup perjuangan periode ini. Semua dilakukan bersama kawan baru, keluarga baru.

Semuanya bermula dari pertemuan.

Dari dulu tak pernah ada yang bisa sepertimu,
Menjagaku dan membuatku tertawa.
Tidakkah itu cukup menjadi alasan aku tak ingin pergi?

Karena sekarang masih saja kamu yang membuatku terjaga sepanjang malam hanya menunggu kabar.

Sudah sampaikah disana?
Sudahkah perlahan ada aku kembali?
Atau malah sebaliknya?

Tidak ada yang beranjak
Tapi hatiku remuk terinjak

Mendung tak datang
Tapi di pipi ada hujan yang berlinang

Kenapa ada duka jika kita masih bisa bersama?
Bagaimana bisa ada dia, sedang selama ini aku hanya memeluk lenganmu saja?

Maaf ternyata aku tak berlaku setia
Kau terluka
Dan aku memilih hancur bersama lumpur